Emas yang Dibuang

Kenapa dibuang dan bukan terbuang? Karena dia memang sengaja dan dengan sadar dibuang, bukan tidak sengaja terbuang.

Rio Haryanto adalah emas itu. Tapi nasibnya cukup menyedihkan. Bedanya, dia orang mampu, anak pengusaha buku. Makanya ceritanya tidak banyak diburu.

Padahal kalau mau melihat perjalanan dan perjuangannya di dunia balap tanpa melihat latar belakang keluarga, nasib Rio cukup kasihan. Dari kecil berjuang sendirian dari sebagian uang pabrik buku bapaknya, Sinyo Haryanto. Mulai dari gokart nasional, Formula Asia, GP3, GP2, dan akhirnya bisa ke Formula Satu.

Semua ia raih dengan keringat sendiri tanpa atensi dan apresiasi yang layak dari media, masyarakat, dan pemerintah Indonesia. Dia berprestasi ketika sosial media belum viral, internet belum masif. Dan sayangnya, dia berhenti ketika semuanya dapat diviralkan dengan mudah. Ia dipermalukan negaranya sendiri.

Tak heran jika ada orang yang memandang dia orang yang hanya akan menghabiskan uang negara. Atlet yang tidak akan berguna bagi bangsa. Sosok bukan siapa-siapa, tapi tiba-tiba berhak makan uang Kemenpora. Bakatnya dihentikan bangsa sendiri.

Padahal jika mau merinci prestasinya, ia adalah orang Indonesia terhebat di dunia balap hingga hari ini. Prestasinya, pencapaiannya, lengkap tanpa sensasi dan drama. Tapi apa yang didapatkannya? Hanya dukungan sementara dan bantuan yang fana.

Emas itu kini terpendam kembali. Ia memilih menjadi pekerja kantoran tanpa lupa berbagi. Padahal dengan rupa yang dipunya, ia bisa menjadi selebriti di era saat ini. Namun ia tetap menjadi diri sendiri dan masih tanpa sensasi. Kini namanya tak terdengar lagi, namun sejarahnya tak dapat dipungkiri.

Komentar

Postingan Populer