Memetik Hikmah dari Asian Games 2018

Asian Games telah resmi ditutup kemarin malam. Tidak akan ada lagi bendera-bendera Asian Games yang berkibar di jalanan protokol Jakarta dan Palembang. Tidak akan ada lagi karyawan yang menggunakan waktu makan siangnya untuk streaming pertandingan bulutangkis. Tidak akan ada lagi mahasiswa yang bolos kuliah agar dapat menjadi volunteer, menjadi bagian dari sejarah. Juga tidak akan ada lagi pengalihan jalan dan peliburan beberapa sekolah di Jakarta.

Meskipun telah berakhir, namun Asian Games 2018 tidak dilupakan begitu saja. Bahkan banyak masyarakat di sosial media yang mengaku masih belum move on. Seperti satu bait lagu Slank, terlalu manis untuk dilupakan.

Asian Games mampu menyedot perhatian masyarakat dari panasnya dunia politik. Semua mata tertuju pada Asian Games. Selama dua minggu, berita baik dan membanggakan dari anak bangsa selalu bermunculan di televisi, koran, media online, dan radio. Lantas semua yang membaca pun turut merasa bangga dan bahagia. 

Energi positif muncul selama Asian Games 2018 dihelat. Seluruh rakyat Indonesia satu suara meneriakkan Indonesia. Padahal mungkin sebelumnya, beberapa dari mereka ada yang berbeda suara saat pemilihan kepala daerah. Seluruh rakyat Indonesia berdoa dalam hati masing-masing menurut agamanya. Padahal mereka tahu jika atlet yang sedang bertanding, memiliki agama yang berbeda. Seluruh rakyat Indonesia bersorak ketika atletnya berhasil menuai poin dan menjadi pemenang. Seluruh rakyat Indonesia sejenak terdiam saat bendera merah putih dikerek di tiang tertinggi diiringi lagu Indonesia Raya. Semua hanyut dalam keharuan, kebahagiaan, dan kebanggaan.

Banyak momen yang diciptakan para atlet selama Asian Games 2018 yang menyentil kondisi sosial politik Indonesia saat ini. Aksi selebrasi pesilat Hanifan yang memeluk Pak Jokowi dan Pak Prabowo secara bersamaan menjadi salah satu momen terbaik bagi Indonesia di Asian Games kali ini. Hal tersebut mendapat respon positif dari seluruh lapisan masyarakat. Seakan menunjukkan bahwa rakyat sudah jengah dengan berita persaingan keduanya untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Dok. Istimewa

Hal penuh makna dan juga menyentil kondisi sosial politik dalam negeri dapat digambarkan pada pertandingan final bulutangkis individu ganda putra. Pada pertandingan tersebut, terjadi all Indonesia final antara Marcus Gideon/Kevin Sanjaya melawan Fajar Alfian/Rian Ardianto. Marcus Gideon/Kevin Sanjaya akhirnya keluar sebagai pemenang dan mendapat medali emas setelah harus bermain 3 set dengan sangat ketat. Di akhir pertandingan, setelah para pemenang melakukan selebrasi, ke empat atlet kebanggaan Indonesia tersebut saling berpelukan. Meskipun ke empat pebulutangkis tersebut berbeda suku, agama, juga warna kulit, namun pada akhirnya mereka bersama-sama hormat kepada sang merah putih.
Sumber: Setkab RI




Masih dari bulutangkis, momen saat Anthony Sinisuka Ginting harus kalah karena hampir di penghujung pertandingan, ia mengalami kram parah. Anthony yang sudah dipenghujung kemenangan pun terpaksa harus kalah dari Shi Yuqi pebulutangkis asal China. Pada saat Anthony tergeletak di pinggir lapangan, Shi Yuqi menghampiri dan menggenggam tangan Anthony menunjukkan rasa simpati dan dukungannya. Apa yang dilakukan Shi Yuqi memberikan pelajaran bahwa olahraga bukan hanya sekedar kompetisi, namun juga belajar berempati.


Dengan adanya Asian Games ini, kita banyak belajar dari para atlet tentang arti berjuang, berusaha, dan berkompetisi secara sportif. Selain itu, Asian Games juga menjadi booster bagi nasionalisme rakyat Indonesia. Dunia telah mengakui bahwa Indonesia telah berhasil menyelenggarakan Asian Games 2018 dengan sangat baik. Indonesia berhasil karena masyarakatnya bersatu dan saling membantu. Teruslah bersatu wahai Indonesia ku. Karena dengan bersatu, kita akan bisa menuju Indonesia maju.

Komentar

Postingan Populer