Belajar Peka
![]() |
| Sumber: nytimes.com |
Sore ini aku mendapat pelajaran bahwa untuk menjadi individu yang peka terhadap lingkungan sekitar, memang perlu dilatih. Apalagi di zaman yang serba teknologi seperti saat ini yang membuat manusia tak lagi bergantung kepada sesama manusia, namun lebih kepada mesin. Interaksi antar sesama manusia pun menjadi berkurang dan kita asik berkutat dengan gadget. Hal tersebut juga kadang membuat sifat peka manusia terhadap lingkungan sekitarnya menjadi menurun. Manusia menjadi cenderung lebih cuek dan tak acuh dengan sekitarnya.
Sore tadi, tepatnya diperjalanan setelah aku beli sesuatu di mini market dekat rumah, aku seakan kembali belajar satu hal. Di perjalanan menuju kembali ke rumah, di pinggir jalan ada seorang pria sedang berhenti namun tetap duduk di atas motornya, rupanya ia hanya berhenti sejenak untuk mengenakan penutup mulut. Ketika ia selesai mengenakan penutup mulut, kemudian ia mengegas motornya perlahan. Namun belum jauh dari tempat ia berhenti, ternyata sebungkus penutup mulutnya terjatuh.
Sebungkus penutup mulut itu jatuh tepat di jalan yang sedang aku lewati dengan motorku. Mengetahui ada barang yang jatuh, spontan aku menghentikan motorku dan memutuskan untuk mengambil sebungkus penutup mulut itu dan kuberikan kepada si empunya. Jujur saja, dalam interval waktu yang singkat itu, sebenarnya aku bimbang antara akan menolong orang tersebut atau hanya berlalu dan segera sampai rumah. Kejadian ini memang berlangsung sangat singkat, mungkin hanya sekitar 2 menit dan bagi yang melihat atau bahkan membaca artikelku ini menganggap bahwa peristiwa itu tidak penting dan tidak layak untuk ditulis di blog. Namun bagiku, peristiwa tersebut memberikan pelajaran yang cukup berharga yang belakangan ini ku lupakan.
Dari peristiwa sepele itu, aku belajar bahwa kepekaan terhadap lingkungan sekitar memang harus sering dilatih agar kita tak menjadi manusia yang egois bahkan anti sosial. Aku menyadari bahwa belakangan ini aku sangat individual dan jarang berinteraksi dengan orang lain, hal tersebut membuat rasa kepekaanku pada lingkungan sekitar sedikit menurun. Tak ada salahnya untuk menjadi manusia yang peka terhadap sekitar, malah setelah membantu pria tersebut, aku merasa bahagia dan mendapat energi positif. Setelah aku membantu pria tersebut, aku dapat merasakan jika orang itu juga merasa bahagia dari nada bicaranya ketika mengucapkan terima kasih dan ekspresi matanya. Aku tidak dapat melihat ekspresi wajahnya secara langsung karena ia menggunakan penutup mulut.
Dari kejadian ini, aku tak hanya belajar mengenai kepekaan sosial, namun juga sadar bahwa siapapun dapat berguna dan berarti bagi orang lain tanpa harus menyandang gelar superhero. Dan hal yang kita anggap kecil, nyatanya dapat berarti besar bagi orang lain.


Komentar
Posting Komentar