Bersyukur dan Bahagia
Pagi ini aku seakan dibawa kembali ke masa kecil. Masa yang
penuh tawa, keceriaan, tak mengenal kata bosan atau jenuh. Masa yang
dengan mudahnya memaafkan teman yang menjahili kita. Inspirasi ini
datang dari anak-anak kecil tetanggaku.
Membuat mereka senang dan bahagia itu mudah. Hanya dengan
membolehkan mereka bersepeda keliling perumahan, hanya dengan memberi
mereka permen dan bahkan pelukan serta kecupan hangat dari orang tuanya.Dan aku seakan ditampar oleh mereka. Membuat orang dewasa
senang dan bahagia tak semudah anak kecil. Orang dewasa itu rumit, mudah
bosan, mudah mengeluh, banyak maunya.
Dulu, saat aku kecil, aku sudah ditinggal sendirian
dirumah. Kedua orang tuaku bekerja dan kakak harus sekolah. Saat itu
rasanya tidak ada kata bosan walaupun sendirian, bahkan aku senang.
Mengapa? Karena dengan itu aku dapat leluasa menggunakan imajinasiku,
merealisasikan khayalanku, khayalan ala anak kecil.
Aku masih ingat betul saat itu pompa ban sepeda aku gunakan
sebagai setir mobil, dan pintu lemari aku gunakan sebagai pintu
mobilnya. Seakan aku mengendarai mobil sungguhan. Dan ketika aku membuka
pintu lemari (sebagai pintu mobil), seakan aku turun dari mobil dan
berjalan dengan endelnya. Rasanya senang dapat melakukan itu. Hampir
setiap hari aku melakukannya.
Kini, ketika aku dewasa, aku merasa begitu rumit.
Membahagiakan diriku yang sekarang tak lagi semudah dulu. Dan belakangan
ini aku selalu mengeluh bosan, bosan, dan bosan. Es krim memang bisa
menjadi mood boosterku, tapi itu hanya sementara. Ketika es krim itu
habis, aku kembali merasa bosan. Bernyanyi adalah hobiku, ya walaupun
aku sadar betul bahwa suaraku tak layak untuk didengar umum, cukup
diriku dan keluargaku. Namun ketika aku lelah bernyanyi, aku kembali
bosan. Huh rumit, ribet, ruwet.
Setelah aku melihat anak-anak kecil tadi, memang benar
bahagia itu datangnya dimulai dari diri sendiri. Mungkin para anak kecil
itu bersyukur karena bisa bersepeda keliling perumahan, mereka
bersyukur dengan diberikannya permen. Sedangkan kita, orang dewasa yang sudah mengerti apa itu arti bersyukur dan apa dampak dari bersyukur, malah sering melalaikannya. Selalu mendahulukan mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Itulah mengapa membuat orang dewasa bahagia tidaklah mudah, ribet, ruwet, njlimet. Seharusnya aku bersyukur bahwa aku dapat menikmati es krim yang belum tentu orang lain dapat menikmatinya. Dan seharusnya aku juga bersyukur bahwa aku masih bisa bernyanyi karena melihat mereka yang bisu.
bersyukur dengan diberikannya permen. Sedangkan kita, orang dewasa yang sudah mengerti apa itu arti bersyukur dan apa dampak dari bersyukur, malah sering melalaikannya. Selalu mendahulukan mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Itulah mengapa membuat orang dewasa bahagia tidaklah mudah, ribet, ruwet, njlimet. Seharusnya aku bersyukur bahwa aku dapat menikmati es krim yang belum tentu orang lain dapat menikmatinya. Dan seharusnya aku juga bersyukur bahwa aku masih bisa bernyanyi karena melihat mereka yang bisu.
Bahagia itu dimulai dari diri sendiri. Dengan cara apa?
Dengan bersyukur misalnya. "Bersyukurlah maka kau akan dilebihkan." Dan
jika kita membiarkan rasa bosan mengendalikan kita, maka kita akan
terbelenggu olehnya. Sama halnya ketika kau membiarkan kemarahan untuk
menguasai diri, maka selamanya kau akan marah.
"The only one who can beat me, is me alone."

Komentar
Posting Komentar