What's My Potention?

Aku percaya, Tuhan menciptakan setiap manusia dengan sejuta kemampuan bakat dan potensi. Kita bisa memilih salah satu atau bahkan semuanya. Akan tetapi, manusia memiliki limit nya masing-masing.

Bakat tersebut sejatinya dapat terlihat sedari kita bayi. Namun, apakah orang tua kita peka terhadap hal itu? Tidak semua. Sama seperti orang tuaku yang keduanya sibuk membanting tulang demi aku dan kakakku dari ayam berkokok hingga kelelawar terbang mencari makan.

Bukan, aku dan kakakku tidak kurang kasih sayang dari mereka. Tidak juga kurang perhatian mereka. Alhamdulillah kami mendapatkan itu lebih dari cukup. Tetapi, mungkin saat itu adalah kondisi ekonomi keluarga yang membuat bakat kami tidak dapat dikembangkan.

Aku melihat bahwa orang tua kami pun sebenarnya memiliki bakat yang luar biasa. Ayahku gemar menulis puisi dan beliau dapat mencari note lagu-lagu sendiri menggunakan keyboard KW. Ibuku, beliau memiliki suara yang indah saat menyanyi dan saat melantunkan ayat suci Al-Quran. Beliau juga pandai memasak yang selalu membuat diri ini rindu akan masakannya. Ia juga pandai memadu-padankan busana dan menyulam.

Suatu hari ibu bercerita, dulu saat ia masih berusia belasan tahun, ia sangat ingin belajar menyanyi dan mengikuti berbagai macam lomba. Akan tetapi, ibunya atau nenekku melarangnya. Alhasil ibu hanya sebatas menjadi penyanyi kamar mandi hingga kini. Ya, sama sepertiku.

Di usiaku yang menginjak kepala 2 hanya dalam hitungan hari, aku mengalami kegalauan. Bertanya pada diri sendiri apa potensiku. Aku selalu kagum melihat teman-temanku yang memiliki bakat dalam bidang akademis maupun non akademis. Aku senang melihat mereka menyalurkan bakatnya, mengembangkannya. Dan selalu aku memilih untuk hanya menjadi penonton setia.

Aku bukan seorang yang pandai dalam akademis, pengetahuanku amatlah sedikit. Aku bukan juga orang yang pandai menggambar ataupun melukis. Tanganku tidak cukup kreatif untuk membuat prakarya dan memainkan alat-alat musik. Suaraku sangat pas-pasan dan lebih baik aku diam. Tulisanku juga selalu lompat-lompat tidak pernah berurutan dan menyentuh.

Lalu apa sebenarnya bakatku? Apa potensiku? Di usia yang akan menginjak kepala 2 dalam beberapa hari kedepan, dan aku masih mempertanyakan bakat, disitu kadang saya merasa sedih. Seharusnya pertanyaan semacam ini tidak aku lontarkan pada diri ini. Seharusnya di usia ini, aku sudah bisa mengembangkan bakatku dan berjalan menuju tingkat profesional.

Tidak, aku tidak menyalahkan orang tua maupun keadaan yang ada. Aku hanya menyalahkan diri sendiri yang amat pasif dan selalu memilih untuk menjadi penonton. Aku menyalahkan diriku yang tidak dapat mengalahkan rasa malu. Rasa malu yang ada di diri ini terlalu besar sehingga menghalangiku untuk berkembang.

Kalian jangan jadi sepertiku. Dan untuk para orang tua, sesibuk apapun kalian, tetap perhatikan titipan Tuhan. Ketauhilah bakatnya, kembangkan dan dukung. Jangan pernah halangi mereka untuk melakukan hal baik. Karena jika melakukan sesuatu yang baik, maka hasilnya akan baik pula.

Komentar

Postingan Populer