Setia?


"Aku udah mati-matian nungguin dia, tapi dia ga sadar kalo lagi diperjuangkan. Kurang apa coba? Aku udah bela-belain nunggu dia setahun."

WOW. Aku salut dengan orang-orang seperti itu. Rela menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Padahal dia tahu bahwa menunggu itu membosankan dan bisa saja menyakitkan. Orang-orang seperti itu sering disebut sebagai orang yang setia. Memang tidak salah, tapi tindakan atau perbuatan yang bisa menggambarkan kesetiaan tidak hanya itu. Banyak hal untuk membuktikan kesetiaan seseorang.

Aku bukan tipe orang yang stuck di satu pria. Karena bagiku, masih banyak pria di muka bumi ini. Jika ada yang lebih baik dan pasti, kenapa harus menunggu yang tidak pasti? Bukankah menunggu itu membosankan? Dan bukankah wanita itu menyukai sebuah kepastian?
"Masa lalu boleh sesekali dikenang, masa depan yang harus terus dijelang. Masa lalu takkan pernah terulang, jangan biarkan ia selalu membayang." -Felix Y. Siaw
Setia itu bukan tentang berapa lama ia menunggu, akan tetapi seberapa besar kesungguhan ia menjalankan komitmen yang telah dibuat bersama hingga akhir. Ada komitmen berarti ada sebuah kepastian, kejelasan.
Bagiku, selama belum ada komitmen dengan siapapun, aku berhak untuk berteman dengan pria manapun dan siapapun itu. Karena aku juga ingin mencari yang terbaik diantara yang baik. Emang cuma laki-laki yang boleh melakukan itu?

Tetapi, jika sudah ada komitmen (entah pacaran atau menikah) wajib bagiku untuk setia. Setia hanya mencintai satu pria. Karena berkomitmen itu suatu bentuk tanggung jawab. Seperti halnya kita memutuskan untuk ikut HIMA di jurusan, berarti kita harus bertanggung jawab, siap menerima dan menyelesaikan semua tugas dan konsekuensi.
"Masa lalu boleh dikenang, tetapi tidak untuk di jalani." -Ariel NOAH
Stuck pada seseorang hanya akan menyakiti diri sendiri, menyiksa batin dan perasaan. Ya kalo yang di stuck-in itu tahu dan emang worth it, nah kalo engga? Wasting time, bro! Sakitnya tuh disini.

Terkadang, kita terlalu membatasi diri kita, memaksakan diri untuk menunggu seseorang. Mengenang masa lalu terlalu dalam, hingga gagal move on. Merasa bahwa dia adalah yang terbaik. Padahal sebenarnya, Tuhan sudah memberikan kita petunjuk, mengirim seseorang yang lain yang lebih baik. Namun kita tetap saja ngeyel untuk menunggu yang lama. Mata, hati, telinga, dan otak seakan-akan tertutup. Akhirnya kita tidak melihat apa yang Tuhan berikan.

Komentar

Postingan Populer