Score-Minded: Nilai Bukanlah Segalanya
Nilai yang saya maksud disini nilai berupa angka. Paradigma para siswa, mahasiswa, orang tua, guru, hingga dosen selalu terpaku dengan nilai. Padahal, ketika melamar pekerjaan, bukan ditanya berapa IPKmu. Ketika melamar calon istri, calon mertuamu juga tidak akan bertanya berapa IPKmu. Dan ketika di akhirat pun, Tuhan tidak akan bertanya hal serupa. Jika hanya mengejar nilai, maka Anda akan menjadi sangat ambisius. Memang tak ada salahnya menjadi ambisius, akan tetapi esensi belajar yang sesungguhnya tidak akan didapat, apalagi jika hanya mengejar nilai. Belajar untuk menjadi mengerti dan paham, bukan untuk mendapat nilai yang tinggi.
Jika hanya ingin mengejar nilai yang tinggi, ada banyak cara untuk mencapainya. Bisa dengan banyak membaca, bahkan hanya dengan mencontek pekerjaan teman atau dengan copy paste dari wikipedia, google, dan berbagai search engine lainnya. Akan tetapi untuk dapat benar-benar mengerti dan paham, kita harus membaca. Membaca dengan diresapi, dimengerti. Tidak hanya sekedar membaca. Jika sudah membaca dan mengerti, maka mudah saja untuk mendapat nilai tinggi.
Hal ini pernah saya alami sendiri. Saat pertama mendapat tugas kuliah yakni menulis jurnal, saya mendapat nilai tertinggi diantara teman-teman satu kelas. Saya terkejut mendapat nilai yang begitu tinggi karena itu di luar ekspektasi saya. Saat itu saya merasa terbebani dengan nilai tersebut. Karena diawal saya telah mendapat nilai yang tinggi, dan saya bertanya pada diri sendiri, "Mampukah saya mempertahankan nilai tersebut pada tugas-tugas selanjutnya?" Akhirnya saat itu saya menjadi orang yang score-minded.
Menjadi pribadi yang score-minded ternyata melelahkan. Memang kita akan menjadi lebih rajin mengerjakan tugas, kerja lebih keras, hingga rela begadang. Dan saat tugas dibagikan, nyatanya nilai tersebut tidak sesuai harapan. Sontak saya tersadar, bahwa nilai bukan harga mati, nilai bukanlah segalanya. Akan tetapi, sejauh mana kita mengerti dan memahami suatu materi. Mengerti dan memahami apa yang ditulis dalam jurnal. Saya pun merubah mindset saya. Kini, saya merasa senang jika telah memahami terlebih dulu materi yang akan saya tulis pada jurnal. Saya tidak peduli nilai jurnal saya harus dikurangi 10 poin karena terlambat mengumpulkan. Bagi saya, menjadi paham dan mengerti adalah esensi belajar.
Bukan salah para siswa jika menjadi ambisius, terpaku dengan nilai. Karena memang nyatanya pendidikan di Indonesia mengajarkan begitu. Para pengajar masih berorientasi pada nilai. Jika ada seorang murid yang mendapat nilai tertinggi di kelas, maka ia disebut sebagai murid yang pintar. Jika ada seorang murid yang mendapat nilai jelek, maka ia disebut murid yang bodoh. Tak adil memang menilai seseorang hanya dari angka. Jika murid yang mendapat nilai tinggi kemudian mendapat nilai jelek, para pengajar terkejut dan bertanya-tanya. Mereka seakan lupa bahwa murid mereka juga manusia yang kepintarannya memiliki batas, yang keahliannya pun juga tertentu. Manusia memiliki titik jenuh dalam belajar.
Nilai berupa angka yang diperoleh saat sekolah atau kuliah bukanlah penentu kesuksesan seseorang. Kesuksesan yang saya maksud disini ialah mendapat pekerjaan yang layak. Memiliki soft skill atau keahlian khusus nyatanya lebih dilirik oleh perusahaan daripada IPK tinggi. Pengalaman organisasi pun juga dinilai oleh para perekrut kerja. Untuk itu, kembangkanlah soft skill yang ada, eksplor diri sendiri. Tetaplah belajar, berusaha, dan berdoa.

Komentar
Posting Komentar